Konsultasi : Ibadah


Bolehkah Zakat Maal untuk Pembangunan Masjid?

Ba'da Tahmid dan Shalawat,

ustadz yang kami cintai, bolehkah uang dari zakat maal digunakan untuk pembangunan atau renovasi masjid?

Syukran, Jazakumullahu Khairan Katsiran

Wasalamualaikum wr. wb.

Abi Alif


Jawab:

Assalamu 'alaikum Wr. Wb.
Bismillah, Washshalatu Wassalamu 'ala Rasulillah, Waba'du

Sebenarnya bila dilihat secara zahir, masjid tidak termasuk asnaf zakat yang secara pasti ditetapkan sebagai mustahiq zakat. Apalagi bila kita mengacu kepada ayat 60 surat At-Taubah yang secara tegas menyebutkan daftar orang yang berhak menerima zakat.

Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk [1] orang-orang fakir, [2] orang-orang miskin, [3] pengurus-pengurus zakat, [4] para mu'allaf yang dibujuk hatinya, [5] untuk budak, [6] orang-orang yang berhutang, [7] untuk jalan Allah (sabilillah) dan untuk [8] mereka yang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (QS At-Taubah: 60)

Para ulama berbeda pendapat dalam hal ini. Sebagian ulama ada yang meluaskan pengertian dari masing-masing kriteria di atas. Salah satunya adalah bagian untuk 'jalan Allah' atau yang dikenal dengan istilah 'fi sabilillah'. Kalangan ulama kontemporer umumnya mengqiyaskan atau melebarkan penafsiran 'fi sabilillah' ini sampai kepada bentuk-bentuk jihad lainnya di luar peperangan. Buat mereka hal itu bisa dikategorikan jihad juga dan tidak berhenti kepada perang secara pisik saja.

Sebaliknya, ada kalangan yang cenderung tidak terlalu mudah melebar-lebarkan pengertian tiap asnaf itu begitu saja. Karena menurut mereka, Rasulullah SAW dahulu memang hanya memberi harta zakat kepada mujahidin yang ikut perang fisik semata. Sedangkan membangun masjid dan lainnya, menurut mereka tidaklah bisa diqiyaskan dengan jihad pisik. Jadi masalah ini memang merupakan salah satu bentuk khilaf di antara para ulama. Masing-masing nampaknya datang dengan membawa argumen yang kuat dan masuk akal.

Kami memandang bila jihad dalam bentuk pisik memang ada dan membutuhkan dana, tentu saja harus lebih diprioritaskan dalam pembagian harta zakat. Namun bila dilihat dari data yang ada, jihad dalam bentuk konflik pisik memang tidak terjadi di negeri kita. Yang banyak justru adalah jihad-jihad dalam makna yang lebih luas seperti membangun masjid, madrasah, pusat ke-Islaman dan seterusnya. Sehingga para amil zakat perlu sedikit lebih cerdas mengamati hal ini, sebab memang banyak proyek jihad yang lumayan penting serta membutuhkan pembiayaan. Tetapi di balik itu, banyak juga proyek-protek yang mengatas-namakan perjuangan Islam, meski sepi dari makna.

Maka sebaiknya kita tidak secara sederhana memasukkan semua jenis kegiatan yang berbau ke-Islaman sebagai jihad. Begitu juga membangun masjid dan bangunan lainnya. Karena biar bagaimana pun, mengqiyaskan sesuatu hal perlu ada konsideran dan korelasinya.

Misalnya, 'jihad fi sabilillah' itu punya karakterisitik tersendiri, antara in penuh pengorbanan dan beresiko kepada kematian seseorang. Sedangkan membangun masjid-meski punya nilai perjuangan- namun tidak ada resiko kematian. Selain itu jihad pisik itu umumnya adalah untuk mempertahankan dan memajukan jengkal demi jengkal wilayah Islam, sedangkan membangun masjid tidak selalu untuk mempertahankan wilayah Islam. Bahkan tidak jarang terjadi posisi georgrafis masjid-masjid itu terkonsentrasi pada tempat yang berdekatan, padahal jamaahnya kurang atau sepi. Sehingga terkadang malah mengesankan 'show of force' ketimbang mempertahankan eksistensi dakwah Islam.

Apa yang dicontohkan oleh Dr Yusuf Al-Qaradawi di dalam kitabnya -Fiqhuz Zakat- itu kami kira cukup masuk akal. Yaitu dana zakat untuk mendirikan Islamic Center di berbagai negara minoritas muslim. Kedudukan Islamic Center di negeri minoritas muslim itu mirip sekali dengan posisi para mujahidin yang berjuang untuk meluaskan Islam di manca negara. Sebab dahulu, jihad itu memang berbentuk pergi ke medan perang yang letaknya nun jauh disana, bahkan bisa saja menyeberangi benua. Para mujahidin rela meninggalkan anak, istri, harta perdagangan, sawah, ternak dan penghidupan mereka. Wajarlah kalau para mujahidin mendapatkan imbalan harta zakat.

Kalau kita bandingkan dengan panitia pembangunan masjid, terkadang memang terasa jauh bedanya. Seringkali kita dapati mereka duduk enak-enak di rumahnya, berjuang tapi tanpa resiko, tanpa kepenatan dan tanpa nilai pengorbanan baik keluarga, harta dan nyawa. Agaknya kondisi ini sulit disamakan dengan perang pisik yang dilakukan para mujahidin di medan laga.

Sehingga kalaulah ingin dipaksakan juga panitia pembangunan masjid mendapatkan dana dari zakat, pastikan bahwa peran masjid itu memang strategis. Jangan sampai pembangunan masjid itu sekedar berorientasi kepada menghias masjid dengan menara atau kubah yang menjulang, atau sekedar membuat kaligrafi warna warni di dalamnya. Sehingga terasa bahwa semua itu kurang menyentuh jiwa dan roh 'jihad fi sabilillah' itu sendiri.

Apalagi bila masjid itu nantinya malah kosong dan sepi dari jamaah, tidak terisi dengan pembinaan, pengajaran dan semangat memperjuangkan Islam. Bahkan tidak jarang masjid hanya dijadikan bahan rebutan pengaruh antara sesama pengurus sebagaimana yang kerap terjadi.

Maka sebaiknya janganlah kita menghambur-hamburkan harta zakat untuk hal yang kurang mengena.

Wallahu a'lam bishshawab
Wassalamu 'alaikum Wr. Wb.

Ahmad Sarwat, Lc


eramuslim